rssrss

Saturday, 30 November 2013

Tips Rumah Aman dari Aksi Pencurian

Jakarta: Kasus pencurian di rumah kosong yang ditinggal mudik tentu bukan persoalan baru. Agar tren kejahatan semacam itu bisa dibendung, pemilik rumah harus melakukan antisipasi sebelum melenggang ke kampung halamannya.

Dalam wawancara kepada Media Indonesia, Rabu (31/7), Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala menjelaskan, aksi kejahatan berupa pencurian dengan target rumah kosong tergolong mudah ketimbang yang berpenghuni.

Ada tiga modus yang memungkinkan diterapkan para begundal beraksi di rumah kosong. Pertama, menggangsir atau menggali lubang dan menerabas drainase. "Modus ini sangat kuno tapi tetap diwaspadai," ujarnya.

Modus kedua, lanjut dia, yakni menggasak harta benda setelah lebih dulu membobol atap rumah yang umumnya tidak dilengkapi dengan jeruji besi. Jika sudah demikian, pemilik rumah wajib memperhatikan keamanan di loteng kediamannya.

Adapun cara terakhir yang dilancarkan pencuri yaitu masuk dengan teknik pengelabuan. Pencuri menyamar sebagai orang biasa dan selanjutnya berjalan di depan rumah target dengan tujuan mengamati pengamanan yang ada di pagar atau teras.

"Setelah diamati, pencuri akan masuk bersama tim nya untuk membongkar pagar. Kalau tidak ada gembok, akan gampang masuk dan terjadilah pencurian," ucap Adrianus.

Menurut Adrianus, pada musim mudik kali ini, tiga modus yang dipaparkan diatas kemungkinan tidak akan digunakan para pelaku kejahatan. Pencuri yang mengetahui rumah dalam keadaan kosong, akan masuk dengan cara membongkar pintu secara paksa serta memecahkan kaca.

Adrianus menerangkan, pencegahan dapat dilakukan dengan merealisasi kiat informal dan formal. "Kiat informal seperti menitipkan rumah kepada keluarga, tetangga, dan masyarat yang tidak mudik. Ini perlu dipilih orang yang bisa dipercaya untuk mengemban amanat," katanya.

Kiat formal sendiri boleh dicoba namun cara seperti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Agar rumah aman dari garong, pemiliknya bisa menyewa petugas satpam ataupun memasang kamera pengawas (cctv) dan menjalin kerjasama dengan perusahaan jasa keamanan.

"Kalau orang biasa dengan standar ekonomi menengah kebawah sebaiknya gunakan trik informal saja. Tapi kalau memang mau benar-benar aman, ya silahkan gunakan trik formal," kata Adrianus.

Lebih jauh, terang dia, apabila imbauan pengamanan rumah diabaikan pemiliknya maka kejahatan tetap akan terjadi. Pasalnya, ada satu juta rumah kosong di Ibukota yang dikhawatirkan menjadi ekperimen para pelaku kejahatan.

"Pemilik rumah jangan hanya mengandalkan Satgas Anti Rumsong (rumah kosong) yang dibuat Polri saja. Karena jumlah rumah yang harus diawasi sangat banyak maka sebaiknya tetap waspada dengan membuat antisipasi tambahan pengamanan," harap Adrianus.

Para pelaku kejahatan ini, imbuh dia, tidak akan kesulitan mencari sasaran. Bagi penjahat yang tidak memiliki keahlian membobol rumah mewah, maka rumah dengan tingkat keamanan minim akan dijadikan sasaran.

"Semua taget punya resikonya. Dia (pelaku) ada yang mau sekali pukul dengan hasil besar maka harus baca peta dan persiapkan tim. Intinya dimanapun itu pencurian saat mudik pasti terjadi," pungkasnya. (Mudik, Tips Aman dan Modus Pencurian.

KASUS pencurian di rumah kosong yang ditinggal mudik sudah barang tentu bukan persoalan baru. Agar tren kejahatan semacam itu bisa dibendung, pemilik rumah harus melakukan antisipasi sebelum melenggang ke kampung halamannya.

Dalam wawancara kepada Media Indonesia, Rabu (31/7), Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Meliala menjelaskan, aksi kejahatan berupa pencurian dengan target rumah kosong tergolong mudah ketimbang yang berpenghuni.

Ada tiga hal modus yang memungkinkan diterapkan para begundal di Ibukota untuk beraksi di rumah kosong. Pertama, menggangsir atau menggali lubang dan menerabas drainase. "Modus ini sangat kuno tapi tetap diwaspadai," ujarnya.

Modus kedua, lanjut dia, yakni menggasak harta benda setelah lebih dulu membobol atap rumah yang umumnya tidak dilengkapi dengan jeruji besi. Jika sudah demikian, pemilik rumah wajib memperhatikan keamanan di loteng kediamannya.

Adapun cara terakhir yang dilancarkan pencuri yaitu masuk dengan teknik pengelabuan. Pencuri menyamar sebagai orang biasa dan selanjutnya berjalan di depan rumah target dengan tujuan mengamati pengamanan yang ada di pagar atau teras.

"Setelah diamati, pencuri akan masuk bersama tim nya untuk membongkar pagar. Kalau tidak ada gembok, akan gampang masuk dan terjadilah pencurian," ucap Adrianus.

Menurut Adrianus, pada musim mudik kali ini, tiga modus yang dipaparkan diatas kemungkinan tidak akan digunakan para pelaku kejahatan. Pencuri yang mengetahui rumah dalam keadaan kosong, akan masuk dengan cara membongkar pintu secara paksa serta memecahkan kaca.

Adrianus menerangkan, pencegahan dapat dilakukan dengan merealisasi kiat informal dan formal. "Kiat informal seperti menitipkan rumah kepada keluarga, tetangga, dan masyarat yang tidak mudik. Ini perlu dipilih orang yang bisa dipercaya untuk mengemban amanat," katanya.

Kiat formal sendiri boleh dicoba namun cara seperti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Agar rumah aman dari garong, pemiliknya bisa menyewa petugas satpam ataupun memasang kamera cctv dan menjalin kerjasama dengan perusahaan jasa keamanan.

"Kalau orang biasa dengan standar ekonomi menengah kebawah sebaiknya gunakan trik informal saja. Tapi kalau memang mau benar-benar aman, ya silahkan gunakan trik formal," kata Adrianus.

Lebih jauh, terang dia, apabila imbauan pengamanan rumah diabaikan pemiliknya maka kejahatan tetap akan terjadi. Pasalnya, ada satu juta rumah kosong di Ibukota yang dikhawatirkan menjadi ekperimen para pelaku kejahatan.

"Pemilik rumah jangan hanya mengandalkan Satgas Anti Rumsong (rumah kosong) yang dibuat Polri saja. Karena jumlah rumah yang harus diawasi sangat banyak maka sebaiknya tetap waspada dengan membuat antisipasi tambahan pengamanan," harap Adrianus.

Para pelaku kejahatan ini, imbuh dia, tidak akan kesulitan mencari sasaran. Bagi penjahat yang tidak memiliki keahlian membobol rumah mewah, maka rumah dengan tingkat keamanan minim akan dijadikan sasaran.

"Semua taget punya resikonya. Dia (pelaku) ada yang mau sekali pukul dengan hasil besar maka harus baca peta dan persiapkan tim. Intinya dimanapun itu pencurian saat mudik pasti terjadi," pungkasnya. (Golda Eksa)

0 comments:

Quote

Sponsor

Subscribe To BloggerStop


Get Free Updates of This Blog on Your PC !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

BANNER TEMAN

Best Partner blog

www.manurung.net'
 

Blog tools

STATISTIK

Blog Directory