rssrss

Thursday, 14 July 2011

Aphroditemu


Aku diam saja. Pertama, bukan aku yang menawari buku. Kedua, tolong carikan alasan, kenapa aku harus merangkumkan untuknya. Ketiga, siapa pula yang mau berdiskusi dengannya?
Aku meletakkan buku yang ia pinjam dengan kasar di atas meja. Aphrodite, bukan jenis ini kan pria yang akan kau dekatkan padaku?
“Re, bukannya mau mengajari. Wanita kan punya jam biologis. Pria tidak akan mau pada wanita yang sudah lewat tanggal kadaluwarsanya untuk melahirkan. Kamu kan sudah 35. Itu sudah hampir lewat. Kamu harus lebih baik menghadapi pria, agar cepat dapat jodoh. ”
Aku mendelik galak. Dia tidak perlu sekejam itu mengingatkanku. Pemikiran itu sudah lebih dari sekadar gajah di pelupuk mata. Binatang seberat itu bahkan sudah menginjak kepalaku setiap akan tidur dan begitu bangun dari mimpi. Aku harus setengah mati membangun rasa percaya diri dengan mengingatkan bahwa aku tidak terlalu jelek, tidak ada yang salah dengan caraku berperilaku, bahwa jodoh belum ada, karena memang belum saatnya.
Andai saja aku juga punya mantra lain untuk menyihirnya menjadi hewan serupa kutu. Pasti menyenangkan sekali memites tubuhnya di antara jepitan dua kuku jari dan melihatnya gepeng.
Huh! Aku sebal karena dapat dengan mudah dibuat sebal oleh kejadian yang menyebalkan itu. Siapa bilang wanita-wanita di zaman Siti Nurbaya bernasib malang? Setidaknya, mereka tidak perlu ke luar dunianya untuk mencari-cari pria, yang pada akhirnya hanya menguras emosi. Wanita-wanita pada masa itu hanya belajar masak dan berdandan, lalu cukup berkipas-kipas di depan jendela. Biar orang tua yang mencarikan jodoh buat mereka.
Ketika berbelok masuk pantry, aku menabrak Pak Ray.
“Eh, maaf, Pak,” kataku, tergagap.
Ia membetulkan letak kacamatanya dan berkata tanpa perlu menatapku, seolah wanita di hadapannya itu tidak kasatmata. ”Tidak apa-apa, Re. Pekerjaan kemarin sudah selesai? Nanti dibawa ke ruangan saya, ya!”
Sebuah suara yang selalu dalam rentang oktaf yang sama pada berbagai suasana emosi. Tapi, kali ini aku merasa nada itu menyiratkan sesuatu yang jauh, dingin, dan berjarak.
“Ya, Pak!”
Sekarang semua isi kepalaku pekat oleh kabut bayangannya. Ia memang satu dari sedikit pria yang mampu bernegosiasi dengan waktu. Makin tua, jejak-jejak masa justru makin mempermatang garis-garis di wajahnya, seperti sketsa yang akhirnya jadi, membentuk sebuah gambar yang akhirnya sempurna.
Detak tumit sepatu yang tajam menumbuki lantai membuatku menoleh. Ibu Fonda. Ia tampak begitu cantik. Tak ada yang meleset dari tataan yang cermat, mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Rambutnya licin terikat rata di tengkuk. Busananya begitu rapi dan kaku, sehingga dapat membuat sepotong sabun tergores dengan menorehkannya pada lipatan gaunnya. Tercium aroma parfum bunga yang manis ketika ia mendekat.
Aku menunduk dengan canggung, ”Pagi, Bu. ”
“Pagi,” jawabnya, tawar, tanpa perlu menoleh.
Baginya, tak ada perbedaan antara makhluk bernyawa yang bernama pegawai dengan segala macam inventaris kantor yang mati dan tak bergerak. Ia melesat ke ruangan Pak Ray dengan keanggunan seorang ratu. Wanita itu yakin, bersuamikan pria terlalu tampan berarti harus sering datang ke kantor pada jam kerja yang tidak wajar, atau menelepon berkali-kali, hanya untuk memastikan bahwa pria itu tetap miliknya.
Aku mendesah. Heningnya udara dari detak sepatu Ibu Fonda hanya memberi kesempatan bayangan Pak Ray untuk menyelubungi setiap inci sel-sel memoriku. Aku kembali terpaku mengingat sorot matanya yang menembus sekat-sekat hati yang sudah tipis dan transparan. Terbayang bagaimana sentuhan tangannya yang putih dan halus ketika menggeserkan jepitan kacamata di pangkal hidungnya yang tirus dan tinggi. Bagaimana tonjolan-tonjolan bahu dan dada bidangnya menggelenyarkan goda yang tak mampu disembunyikan oleh kemeja putih bersihnya.
Setelah sekian lama, kenangan itu masih sanggup menjentikkan bulir-bulirnya yang sekasar kulit padi pada luka terbuka di permukaan hati. Suatu malam, kami berdua berdiri saling menjauh di dalam kotak elevator, ketika tiba-tiba tatap yang dibalas tatap, memaksa kaki melangkah untuk memangkas jarak yang ada, ketika naluri mengajari kami untuk meletakkan tangannya di pinggangku, melekatkan telapak tanganku yang mati rasa oleh dingin di lehernya yang lembut, ketika persentuhan dua bibir mampu membuihkan campuran antara kenikmatan dan keindahan.
Setelahnya, semalaman aku tak dapat tidur dengan pikiran bersulur-sulur mencari makna. Aku tahu itu salah. Tapi, mungkinkah sesuatu yang salah mampu memberikan pesona begitu indah? Bayangan Ibu Fonda yang akan mencakar-cakarkan kukunya di wajahku, tidak sanggup membuat rasa membuncah ini surut. Aku terlena, terhanyut dan mabuk.
Namun, harga diri memang mudah dilukai. Ketika bertemu pada pagi harinya, ia begitu tawar mengabaikanku, seolah kejadian semalam tidak pernah ada. Aku terpojok dalam antiklimaks, yang membuat batinku menjerit-jerit. Apakah semalam tidak terasa luar biasa juga buatnya? Apakah itu cuma dorongan nafsu semata, sementara aku merasakannya sebagai cinta murni yang mendesak mencari jalan? Aku merasa dimanfaatkan dan dicampakkan.
Meski begitu, sungguh sulit melupakannya. Jangankan itu, membencinya pun aku tak sanggup. Karena, di antara ribuan detik aku membencinya, di antara jutaan detik aku terombang-ambing antara mencintai atau membencinya, terkadang aku terkejap-kejap oleh guyuran cinta yang membanjur sejuk, sewaktu mataku menangkap caranya memandang. Untuk kesekian kalinya, aku akan merasa seperti bukan apa-apa dan begitu bodoh, karena mengira ada apa-apa.
Seperti ketika aku berjalan melewati ruangannya, kilatan seperempat detik pun cukup dapat menangkap, pandangan matanya melukiskan suatu rasa, yang kutakut untuk mengiranya sebagai cinta, namun juga tak sanggup kutanggung jika itu bukan cinta. Semua penolakan membuatku belajar untuk tidak pernah membiarkan sedikit pun bibit perasaan itu tumbuh kembali.
Aku mendesah. Tadi pagi Bowo. Sekarang Pak Ray. Apakah aku telah salah mengucapkan mantra?
Aphrodite, jangan pernah pria itu lagi. Karena, aku bisa dengan mudah terpuruk, tersungkur, dan bertekuk lutut. Jatuh cinta tanpa syarat padanya.
Hari kedua
Tepat pukul 6 sore. Dengan hati berdebar-debar aku menunggu lift. Kuucapkan doa dengan khusyuk. ”Jangan sampai bertemu Bowo. ”
Sungguh menyebalkan, mulai kemarin aku selalu ketakutan jika hendak memasuki kotak ini. Kumaki-maki setan beton yang telah menyeretnya pindah ke kantor ini. Sayang sekali, kantorku berjarak 18 lantai dari lobi. Jika tidak, aku lebih baik berkeringat naik-turun tangga daripada harus mati sakit jantung setiap kali pintu ini terbuka.
Sebuah bunyi pertanda berdenting.
”Jangan Bowo. Jangan Bowo. ”
Bagai menanti tirai yang membuka pertunjukan horor, aku menatap pintu yang perlahan terbuka. Fuih! Doaku terkabul. Pria asing tak kukenal.
Dengan napas lega, aku melangkah masuk. Lift berjalan perlahan. Sebuah bau rumput bercampur rempah menarikku untuk menyadari keberadaannya. Unik sekali. Ia memakai dasi dengan motif para personel Beatles. Pria jenis seperti apakah yang berani tampil sebeda itu? Penggemar fanatik? Penikmat hidup yang tidak takut komentar sosial? Atau, hadiah ulang tahun dari kekasih galak, yang terpaksa harus dipakai?
Aku menyeringai, tepat ketika ia memandangku. Rasa malu terpergok membungkam senyumku, tapi ia ikut menyeringai lucu, seolah memaklumi apa pikiranku. Senyumnya menguar sesegar harum tubuhnya. Kami akhirnya berdiri bersisian, tanpa saling memandang, namun tersenyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba detak jantungku berdegup menembus dinding. Aphrodite, apakah ini perbuatanmu? Apa kejadian selanjutnya yang akan terjadi? Apakah lift akan macet? Sungguh mendebarkan untuk berjam-jam terjebak. Jam-jam pertama yang akan membawa kami pada obrolan yang makin menghapus jarak. Jam-jam yang terus merangkak untuk menyadarkan dua jiwa untuk menjadi satu. Jam-jam yang memberi waktu untuk menegaskan kesatuan itu.
Lift sedikit bergoyang. Ayo, jadilah rusak! Mati! Macet! Atau, apa saja. Yang penting terjadi peristiwa yang akan kami kenang seumur hidup. Mungkin, nantinya kami akan berulang kali menceritakan setiap detail kejadian ini pada semua teman kami. Begitu berulang-ulang, sampai tidak peduli lagi, jika ada yang pernah mendengar ulangan cerita itu sampai 3 atau 4 kali. Mungkin, cerita ini juga akan terus menurun sampai anak cucu. Mungkin….
Tapi, lift baik-baik saja dan terus meluncur turun meninggalkan anganku mati di atas sana. Di lobi, pria itu melangkah keluar. Sama sekali lupa bahwa telah memanah mabuk seorang wanita oleh senyumnya. Kupandang punggungnya ketika ia melangkah pergi dari dunia harapku. Aku mencari napas pada udara yang tiba-tiba menjadi padat dan berat. Kucoba menghibur diri sendiri. Bagaimana jika bukan dia orangnya?


tread: Elvi Fianita Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2006

0 comments:

Quote

Sponsor

Subscribe To BloggerStop


Get Free Updates of This Blog on Your PC !

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

BANNER TEMAN

Best Partner blog

www.manurung.net'
 

Blog tools

STATISTIK

Blog Directory